Minggu, 21 Februari 2010

PONOROGO JAMAN KESULTANAN DEMAK BINTORO


Setelah pemerintahan pusat majapahit lemah sekali Bandar-bandar di pesisir Jawa
seperti Demak, Jepara, Tuban, Gresik dan Surabaya memerdekakan diri dari Majapahit. Bandar bandar timbul/ berkembang menjadi kerajan-kerajaan kecil, berkat hubungan langsung yang erat dengan Malaka yang lambat laun para pengusaha Bandar-bandar itu lalu menganut islam.
Kerajaan-kerajaan kecil pesisir Jawa tersebut dapat berkembang menjadi Negara besar
ialah Demak. Ketika diperintah oleh Raden Patah sekitar awal XVI, Demak dapat menguasai
kota-kota pesisir yang lain seperti Lasem, Tuban, Gresik, dan Sedayu. Raden Patah diakui
sebagai pemimpin kota-kota dagang pesisir dengan gelar Sultan. Dari Demak agama islam
disebarkan keseluruh jawa bahkan keluar Jawa.
Siapa Raden Patah itu dapat diketahui dari beberapa sumber antara lain menyebutkan
raja-raja Demak menyatakan dirinya sebagai keturunan Prabu Brawijaya Raja majapahit
Demikian pula di dalam Purwaka Caruban Nagari disebutkan dengan jelas bahwa Raden
Patah pendiri dan Sultan pertama Demak adalah anak Prabu Brawijaya Kertabumi.
Raden Patah itu menurut Tome adalah pendiri Demak adalah disebut Pata Rodin.
Babad tanah Jawi menyebutkan pendiri demak adalah Raden Patah seperti kutipan ini :
Risang poetri patoetan kekalih, samya dijaole oambayoene iko. Raden Patah Djoedjoeloeke, nenggih bebekanipun, saking Prabu ing Mahospait, kala ngidam kaworan, pinisah karoehoen, siro sang poatri ing tjino, patoetane lan aryo Damar satoenggil, Raden Koesen kang nama “ Aryo Damar sigro deniro angling. Keh sang Prameswari soetaniro panenggih ing tembe, pasti djoemeneng ratoe Raden Patah ana ing Djawi poerwa raja kang islam. Simeng Majalangoe. Raja kapir kang ginanyan mengkweng Djawi sineba ing para Adji, Djawa tanpa sisingan

Dari Babad Tanah Jawi disimpulkan sebagai berikut :

Raden Patah adalah Putra Prabu Majapahit dengan Putri Cina yang pada waktu hamil
muda diberikan kepada Aryo Damar, setalah lahir bayi itu di beri nama Raden Patah. Jadi, darah yang menurun kepada Raden Patah adalah Prabu Majapahit
Prabu Majapahit yang mempunyai istri Cina adalah Brawijaya terakhir. Arya Damar
menyatakan kepada permaisurinya bahwa putranya yakni Raden Patah akan menjadi raja islam pertama di Jawa. Yang kita ketahui bahwa kerajaan islam yang pertam di Jawa adalah Demak, maka jelas Raden Patah adalah Raden Demak
Pada saat Raden Patah menginjak dewasa kerajaan Hindu Majapahit telah mulai runtuh
yang disebabkan oleh perlawanan kaum bangsawan yang telah mendirikan kota di pantai utara dan mendapat bantuan islam. Kesempatan ini dipergunakan Raden Patah untuk menemui Raden Rahmat. Raden Patah mengutarakan beberapa hal mengenai Majapahit yang telah lemah. Raden Patah tinggal pada Raden Rahmat. Untuk belajar beberapa hal dan setelah cukup diberi kedudukan di Bintoro. Kemudian Bintoro dikembangkan atas dasar islam. Mendengar hal itu raja Majapahit Brawijaya memanggil Raden Patah untuk diangkat Mangkubumi di Bintoro.
Raden Patah memperkuat kedudukan Bintoro, berkat bantuan para wali berkembang menjadi kerajan islam pertama di jawa dengan nama Demak, rajanya Raden Patah dengan gelar panembahan Djimbun
Dalam babad Tanah Jawi disebut peran Raden Rahmat atau Sunan Ampel sebagai
berikut :
15. Angoiko soesoenan ing Ngampel denito poetoe ngong kidipatoes madega nata iyo ing tanah jawa pan siro kang doewe waris koeto ing Demak iku kakim prayogi
20. Moermawarno siro ratoe mangoen islam nama asinopati boen ngabdir rahman, panembahan palembang Syayidin panaragama pamoerwardi nan, ing sarak kanjeng nabi.
Dari beberapa sumber di atas jelas bahwa raden Patah kemudian menjadi raja islam demak
tetapi rupanya saat munculnya Demak majapahit sudah mengalami masa krisis hingga yang
terjadi Brawijaya telah diganti/direbut oleh Girindrawardana yang bukan anaknya sendiri.
Melihat kekacauan ini Raden Patah tidak berkenan karena Majapahit dikuasai keturunan lain
yang tidak berhak atas tahta kerajaan.
Sebenarnya pada jaman pemerintahan Brawijaya raja Majapahit terakhir ( ayah raden Patah )
telah memberi daerah lungguh ( wilayah kekuasaan ) kepada Raden Patah yang kelak
berkembang menjadi kerajaan Demak. Lain halnya yang terjadi dengan Raden Katong yang saat itu belum mempunyai daerah lungguh bahkan masih di daerah naungan Brawijaya. Pada suatu saat Brawijaya tahu bahwa sebelah timur Gunung Lawu dan sebelah barat Gunung Wilis ada seorang Demang dari Desa Kutu yang tidak mau datang Ke Majapahit maka Bathoro Katong disuruh mendatangkan Demang dari Kutu tersebut ke Majapahit.

PERANAN BATHORO KATONG DI PONOROGO

Sebelum mengutarakan peranannya, perlu ditelusuri siapa sebenarnya Raden katong itu.
Ada beberapa pendapat antara lain :
Dr.L.Adam, Residen Madiun :”Batoro katong hidup pada masa runtuhnya Majapahit dan
munculnya Demak ( akhir abad XV dan awal abad XVI ). Mungkin putra Raja Brawijaya V,
yang mudanya Bathoro Katong bernama Lembu Kenongo.
Slamet Hardjosenton, Kepala Kelurahan Setono dan Juru Kunci Makam
Batoro Kathongialah Putra Brawijaya raja Majapahit yang terakhir, atas perkimpoiannya dengan Putri dari Begelen. Pada masa mudanya Batoro Katong bernama Kebo Kanigoro.
Sri Sarno, Kepala pembinaan Kebudayaan kabupaten Ponorogo “ Bathoro KatongPutri
Brawijaya V dengan Putri Begelen Dalam serat Katongan disebutkan : “ Prabu brawijaya V ( Arya Ankawijaya ) juga disebut Raden Alit raja Majapahit yang ketujuh atau terakhir berputra 117 orang. Disebutkan antara lain dengan Ibu Pengemban nomer 22 mempunyai anak raden Joko Piturun atau Raden Arak Kal yang kemudian menjadi Adipati di Ponorogo dengan nama Bathoro Katong.
Dari beberapa sumber diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Bathoro Katong putra
Raja Majapahit Brawijaya V, yang mempunyai hak atas tahta Majapahit
Bathoro Katong mendapatkan daerah Lungguh dari ayahnya. Yang terletak di sebelah timur
Gunung Lawu dan di sebelah barat Gunung Wilis ke selatan sampai pantai selatan
Beberapa peranan Batoro Kathong dapt disebutkan sebagai berikut :


1.Bathoro Katong menakhlukkan demang Surya Ngalam.
Beberapa tahun kemudian setelah Bhre kertabumi ( Brawijaya V ) naik tahta di kerajaan
majapahit tahun 1486 M. bathoro Katong bersama dengan Seloaji berangkatlah dari
Majapahit menuju ke Wengker untuk menemui Surya Ngalam/Demang Kutu di Suru
Kubeng.
Sebelum menemui Demang Kutu, Bathoro katong bertemu dengan Ki Ageng dari Desa
Mirah, anak Ki Ageng Gribig. Ki Ageng Mirah adalah mubalig yang telah beberapa waktu
bertugas menyebarkan agama islam di Wengker. Banyak hal penting keadaan Bumi Wengker
yang dijelaskan Ki Ageng Mirah yang telah lama berpangalaman di Bumi Wengker. Kepada
Bathoro Katong mereka bersepakat berjuang bersama Ki Ageng Mirah menyebarkan agama
islam dan Bathoro Katong di bidang Pemerintahan
Untuk mempermudah pencapaian tujuan, Ki Ageng Mirah menghendaki Bathoro Katong
masuk islam. Dengan sukarela ( tidak berkeberatan ) Bathoro katong masuk islam
Setelah itu Bathoro Katong dan Ki Ageng mirah selalu bekerja sama mempelajari situasi
dan kondisi Wengker agar misi dan tujuannya tercapai. Ki Ageng Mirah merasa gembira karena dapat bekerja sama dengan Bathoro Katong yang masih keturunan Majapahit itu. Di samping itu Bathoro Katong dan Ki Ageng Mirah mengatur siasat untuk menghadapi Kedemangan Kutu
Hal ini disebabkan oleh sikap Demang Kutu yang tidak tunduk ( Mbalelo ) terhadap
pemerintahan Majapahit. Ki Ageng Kutu tidak setia kepada pemerintahan Majapahit disebabkan
:

- Ki Ageng Kutu adalah keturunan Majapahit yang berkuasa di Wengker 
- Kertabumi pernah merebut tahta Pandan Salas leluhur Ki Ageng
Kutu

- Pemerintahan Majapahit dalam keadaan lemah karena adanya
perebutan kekuasaan

Untuk menaklukkan Demang Kutu Bathoro katong menempuh jalan damai, pendekatan

kekeluargaan dan toleransi, yakni :
 - Menyatukan wawasan /cara pandang bahwa antara Ki Ageng Kutu dengan Raden Katong
bukanlah musuh
 - Bathoro Katong memperistri Niken Sulastri putri Ki Ageng Kutu

 - Dapat memiliki ( menguasai ) keris Kyai Jabardas dan keris Rawe Puspita andalan
Kedemangan Kutu

2. Bathoro Katong menyebarkan agam islam di Ponorogo

Ki Ageng Mirah telah merintis menyebarkan agam islam di Wengker hasil yang
diperolehnya belum memadai. Terbukti masyarakat Wengker pada waktu itu masih kokoh
memegang nilai-nilai lama dan tradisional yang dijiwai paham Hindu. Oleh karena itu
kedatangan Raden Katong ( Bathoro katong ) disambut gembira oleh Ki Ageng Mirah.
Setelah itu keduanya bekerja sama untuk melaksanakan misi pemerintahan dan penyebaran
agama islam.
Pada tahap pertama Bathoro Katong. Ki Ageng Mirah, dan Seloaji pergi ke Bintoro
untuk berguru kepada wali dan ulam islam. Di Bintoro mereka memperoleh berbagai
pelajaran pengetahuan pemerintahan dan agam islam
Setelah dirasa cukup, Bathoro katong dan pengikutnya kembali ke daerah
lungguhnya ( daerah di sebelah timur Gunung Lawu dan di sebelah barat Gunung Wilis )
Tahap kedua, dalam penyebaran agama islam Bathoro Katong menggunakan cara
pendekatan persuasif, toleransi yang asimilatif-sinkreatif dan akulturatif, bukan dengan
kekerasan dan peperangan.
Berdasarkan pendekatan tersebut pengaruh islam dapat dengan mudah ditanamkan
dan diperkembangkan dalam masyarakat. Di samping itu Bathoro Katong menyebarkan
agama islam melalui saluran kesenian Reog. keberhasilan jerih payah Bathoro Katong, Ki
Ageng Mirah, Seloaji dan para pengikutnya terbukti dengan adanya pondok-pondok
pesantren di Ponorogo

3. Bathoro Katong Mendirikan Kadipaten Ponorogo

Menurut Babad Ponorogo, setelah Raden Katong sampai di wilayah, Wengker
memilih tempat yang memenuhu syarat untuk pemikiman, ( yaitu Plampitan, Kelurahan
Setono, Kecamatan Jenangan sekarang ). Meskipun situasi dan kondisi masih banyak
dijumpai hambatan, tantangan, yang dating silih berganti, Raden Katong, Seloaji, dan Ki
ageng Mirah serta pengikutnya mulai mendirikan pemukiman.
Sekitar tahun 1482 M, konsolidasi wilayah mulai dilakukan, hal ini ditandai dengan
adanya sebuah prasati terletak di Telaga Ngebel yang kemudian dikenal dengan Prasati
Kucur Bathoro
Dengan melaksanakan konsep-konsep perjuangan yang dilakukan dengan penuh
kearifan dan kebijaksanaan, Raden Katong dapat melanjutkan perjuangannya
Selanjutnya antara tahun 1482-1486 M, upaya dalm rangka menegakkan perjuangan
dengan menyusun kekuatan, sedikit demi sedikit semua kesulitan dapat diatasi, akhirnya
pendekatan kekeluargaan dengan KI Ageng Kutu dan seluruh pendukungnya mulai
membuahkan hasil
Langkah berikutnya dengan segala upaya dan usaha ditempuh untuk mengadakan
persiapan-persiapan dalam rangka merintis mendirikan kadipaten
Dengan semua pihak Bathoro Katong ( Raden Katong ) dapat mendirikan Kadipaten
Ponorogo pada akhir abad XV dan menjadi Adipati yang pertama


BERDIRINYA KADIPATEN PONOROGO

a. BEBERAPA SUMBER YANG BERKAITAN DENGAN BERDIRINYA KADIPATEN
PONOROGO
Ada dua sumber utama yang kami jadikan bahan kajian dalam menelusuri Hari Jadi
Kadipaten Ponorogo yakni :
a. Sejarah lokal baik legenda maupun buku Babad
b. Bukti peninggalan buku-buku sejarah


a. Sejarah lokal Baik Legenda maupun Buku Babad
Banyak cerita yang berkembang di kalangan masyarakat bahkan ada yang telah ditulis di
dalam buku Babad dan lain-lain
Menurut babad maupun cerita rakyat, pendiri Kadipaten Ponorogo ialah Raden Katong
putra Brawijaya V raja Majapahit dengan Putri Begelen. Diduga berdirinya Kadipaten
Ponorogo pada akhir abad XV
b. Buku peninggalan Benda-Benda Purbakala
Kebudayaan seseorang itu bersumber dari masyarakatnya. Dalam arti konsentrasi
tertinggi adalah basis alam dari kehidupan kebudayaan itu sendiri 30
Masyarakat Wengker menganut kepercayan Hindu yang jelas beralkuturasi dengan tradisi tradisi yang berlaku saat itu.

Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peninggalan benda-benda purbakala antara lain :

1.Sebuah Arca Syiwa
2. Tiga buah arca Durga
3. Lima buah arca Ghanesa
4. Dua arca Nandi
5. Sebuah arca Trimurti
6. Dua arca Mahakala sebagai Dwarapala
7. Sebuah Lingga
8. Sebuah Yoni
9. Sepasang Lingga Yoni
10. Sembilan buah minatur lumbung padi
11. Arca Gajah-Gajah Siwarata, kendaraan Bathara Indra berasal dari Timur
12. Wisnoe barasal dari Timur
13. Ganesa penunggu rumah dengan angka tahun 1355 Saka = 1433 M
14. Umpak terdapat di Pulung dengan angka tahun 1336 Saka = M. 31
15. Sejumlah Patung/Arca logam yang ditemukan di Desa Kunti, Kecamatan Bungkal

Disamping itu ditemukan pula peninggalan benda-benda purbakala di sekitar Makam Bathoro

Katong Dari Komplek makam ini diperoleh petunjuk angka tahun kapan kiranya Bathoro
Katong mendirikan Kadipaten Ponorogo. Di depan Gapura pertama yang berdaun pintu atau
Gapura ke-5, disebelah utara dan selatan terdapat sepasang batu menyerupai tempat duduk yang menurut tradisi disebut Batu Gilang
Pada batu tersebut terlukis Candra Sengkala, memet dari belakang ke depan berupa :
manusia, pohon, burung, (Garuda) dan gajah
Manusia : angka 1
Pohon : angka 4
Burung Garuda : angka 1
Gajah : angka 8
Berdasarkan kajian itu, Tim Sembilan menyimpulkan Candra Sengkala memet pada Batu
Gilang tersebut menunjukkan angka tahun 1418 Saka.


BATHORO KATONG DIWISUDA

1. Figur Seorang Bathoro katong
Nama Bathoro Katong sudah tidak asing lagi bagi Masyarakat Ponorogo, bahkan
nama itu seakan sudah menyatu dengan nama Kota Ponorogo
Menurut pendapat Para Sarjana, cerita rakyat dan buku-buku babad Bathoro
Katong adalah pendiri Kadipaten Ponorogo yang selanjutnya berkembang menjadi
1. Kabupaten Ponorogo
Hal itu sudah menjadi keyakinan masyarakat Ponorogo tanpa mempermasalahkan “
Kapan “ Bathoro Katong Diwisuda sebagai Adipati Ponorogo :
2. Kapan Bathoro Katong Diwisuda
Berdasarkan penelitian dan analisa sejarah dari berbagai sumber terutama
pengkajian terhadap peninggalan benda-benda purbakala yang berkaitan dengan masa
pemerintahan Bathoro antara lain dapat kami sampaikan sebagai berikut :


 -Batu Bertulis Kucur Bathoro
Di wilayah Kecamatan Ngebelada Lokasi/ tempat yang dinamakan Kucur Bathoro.
Menurut Moh. Hari Soewarno, Kicur Bathoro itu diperkirakan tempat bersemedi bathoro
katong pada saat akan memulai melaksanakan tugas di Bumi Wengker. Ditempat itu
terdapat sebuah batu bertulis yang menunjukkan angka tahun 1482 Masehi
 -Prasasti Batu Gilang di Makam Bathoro Katong
Di komplek makam bathoro katong yaitu di depan gapura ke- 5 terdapat sepasang
batu yang disebut Batu Gilang oleh masyarakat Ponorogo. Pada batu gilang itu terlukis
Candra Sengkala memet berupa Gambar : pohon, burung (Garuda) dan gajah, yang
melambangkan angka tahun 1418 Saka atau tahun 1496 Masehi. Batu Gilang itu
berfungsi sebagai Prasasti “ Penobatan “ yang dianggap suci
Atas dasar bukti peninggalan benda-benda purbakala tersebut dengan
menggunakan Buku Handbook Of Oriental History halaman 37, dapat ditemukan hari
wisuda Bathoro katong sbagai Adipati Kadipaten Ponorogo pada Ahad Pon 1 Besar
1418a bertepatan dengan 11 Agustus 1496 Masehi atau 1 Dhulhijah 901 H.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Budayaku Copyright © 2008 Black Brown Art Template by Ipiet's Blogger Template